Oleh: kurniawan007 | 7 November 2009

Pengelolaan Kelas Pendidikan Jasmani

Suatu pembelajaran pasti mempunyai tujuan, begitu juga dengan pembelajaran pendidikan jasmani. Tidak hanya asal bergerak dan berkeringat maka tujuan itu tercapai. Ada aspek lain yang perlu diperhatikan utamanya keselamatan anak didik serta perkembangan psikis tiap individu.

1. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Jasmani

Menurut Melograno Pendidikan jasmani adalah proses pemenuhan kebutuhaan pribadi siswa yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor yang secara eksplisit dapat terpuaskan melalui semua bentuk kegiatan jasmani yang diikutinya. Sehingga menurut pengertian tersebut guru pendidikan jasmani dituntut untuk mengembangkan kemampuan berpikir, sikap positif serta keterampilan gerak dalam tiap kegiatan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran pendidikan jasmani (BSNP 2006:513,648) adalah :

  • Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih.
  • Menigkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik.
  • Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar.
  • Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olaharag dan kesehatan.
  • Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis.
  • Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
  • Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.

Berdasarkan hal di atas jelas bahwa tujuan pendidikan jasmani tidak hanya pada gerak tetapi sikap, pola hidup sehat dan juga psikis perlu diperhatikan. Misalkan dalam pembelajaran sepakbola atau futsal kebanyakan siswa ingin langsung bermain. Salah satu aspek yaitu sportifitas dapat dimasukkan kedalamnya dengan meniadakan wasit dalam permainan tersebut. Siswa tersebut yang akan menjadi penilai kesalahan dirinya sendiri. Dalam satu sisi sportifitas, kejujuran, disiplin, kerjasama, dan tanggungjawab terjalin dalam lapangan permainan. Tetapi dari sisi lain karena kurang cermatnya seorang guru salah satu siswa mengalami cidera otot atau kram otot. Hal ini terjadi karena sebelum melakukan pembelajaran tidak ada pemanasan atau warming up. Sehingga dapat dikatakan tingkat keselamatan yang diciptakan seorang guru dalam pembelajaran pendidikan jasmani di kelas tersebut kurang baik. Masih banyak materi yang lebih membahayakan apabila pengelolaan kelas kurang baik. Maka peran guru pendidikan jasmani sangat penting untuk melangsungkan pembelajaran.

Sehingga dapat disimpulkan banyak manfaat yang diperoleh dari pendidikan jasmani apabila semua aspek tersebut diperhatikan. Akan menjadi lebih menyenangkan pendidikan jasmani jika seorang guru sangat inovatif dalam penyampaian materi.

2. Manajemen Pengelolaan Kelas

Seorang guru sebagai pemegang kendali di kelas harus sadar akan tugasnya. Tugas guru antara lain membelajarkan siswa dengan kondisi belajar yang optimal dan kondusif serta menjaga dan memelihara keadaan siswa yang sesuai untuk belajar. Sesuai dengan hal tersebut maka manajemen pembelajaran pendidikan jasmani yang efektif adalah sebagai berikut:

  1. Dimulainya pembelajaran harus diawali dengan menetapkan aturan kelas. Perlunya menetapkan aturan kelas agar seluruh siswa mengerti bagaimana pembelajaran yang akan mereka lakukan sehingga bisa berjalan dengan baik. Hal-hal yang perlu ditetapkan dalam proses pembelajaran antara lain penetapan syarat untuk dapat melakukan kegiatan pembelajaran, penetapan waktu dimulainya pembelajaran, memperhatikan penjelasan guru, adanya kerjasama dalam kegiatan, dan penggunaan pakaian, lapangan/ruangan dan alat. Aturan ini harus jelas pada awal pertemuan.
  2. Memulai kegiatan tepat waktu. Dalam tiap kegiatan diperlukan suatu tanda yang jelas sehingga murid tanggap akan tanda tersebut. Kedisiplinan sangat diperlukan agar waktu yang digunakan tidak terbuang dan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Selain itu dalam suatu kegiatan harus didahului dengan berdoa. Hal ini dapat menjadikan psikis siswa menjadi lebih baik.
  3. Mengatur Pelajaran. Guru harus selalu menjaga proses kegiatan belajar berjalan lancar. Apabila ada gangguan maka guru harus mengembalikan pada kondisi belajar siswa yang optimal dengan berbagai cara. Selain itu seorang guru harus memberikan petunjuk yang jelas tanpa banyak bicara. Karena karakter olahraga adalah banyak praktik bukan banyak bicara.
  4. Mengelompokkan siswa. Penyesuaian antara jumlah siswa dan alat yang tersedia harus dilakukan dengan pengelompokan. Alat yang ada harus menjadi tanggung jawab kelompok. Sehingga jumlah alat yang dikeluarkan sama jumlahnya dengan alat yang dikembalikan. Hal ini dapat melatih tanggungjawab siswa.
  5. Memanfaatkan lapangan/ruangan dan peralatan. Guru harus mengoptimalkan ruangan/lapangan yang ada dan peralatan sehingga murid dapat melakukan kegiatan dengan nyaman dan senang. Apabila situasi tidak memungkinkan guru dapat melakukan pola pembelajaran yang sesuai dengan kondisi.
  6. Mengakhiri pelajaran. Apabila awal pelajaran diawali dengan pengarahan dan doa. Maka pada akhir kegiatan pelajaran juga harus dilakukan. Tetapi pengarahan hanya sekedar saja apabila waktu memungkinkan. Karena siswa lebih membutuhkan waktu untuk membersihkan keringat, minum dan ganti pakaian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: