Oleh: kurniawan007 | 6 November 2009

Sejarah Psikologi Olahraga

Menurut Silva III dan Weinberg (1984), salah satu studi pendahuluan dalam psikologi olahraga telah dilakukan oleh George W. Fitz yang menyelidiki waktu reaksi (reaction time). Fitz telah menciptakan alat-alat untuk mengukur kecepatan dan ketepatan seseorang menyentuh obyek yang dihadapi tiba-tiba dan dalam posisi yang tidak terduga. William G. Anderson, tokoh pendidikan jasmani terkemuka dan tokoh pendiri “American Assosiation for Health, Physical Education, Recreation and Dance” selama tahun 1897-1898 menyelesaikan eksperimen mengenai “Mental Practice”.

Norman Triplett, ahli psikologi dari Universitas Indiana menyelenggarakan studi untuk membuktikan hubungan antara pengaruh penonton terhadap penampilan motorik. Scripture, direktur laboratorium Universitas Yale, berpendapat watak yang baik dan sifat-sifat pribadi dapat dipelihara dengan berperan serta dalam olahraga dan sifat-sifat tersebut dapat ditransfer dalam keadaan yang berbeda dalam kehidupan seseorang. Griffith telah mengembangkan alat-alat tertentu meliputi :

  1. Alat pengukur waktu reaksi otot yang diberi beban
  2. Tes kecerdikan dalam baseball
  3. Tes ketegangan otot dan relaksasi
  4. Tes untuk membedakan 4 tipe serial reaction times
  5. Tes untuk mengukur ketenangan, koordinasi otot-otot dan kemampuan belajar.
  6. Tes waktu reaksi terhadap sinar, suara dan tekanan
  7. Tes untuk mengukur fleksibilitas koordinasi
  8. Tes untuk mengukur kepekaan otot
  9. Tes kesiapan mental yang dikembangkan khusus bagi atlit.

Pada tahun 1932 Griffith meletakkan jabatan Direktur “Athletic Research Laboratory” karena suatu pembatalan bantuan finansial. Griffith menyelenggarakan bermacam-macam tes untuk meneliti kepemimpinan, latihan, kepribadian, motor learning, kemampuan (ability), pada bermacam-macam faktor psikologi sosial. Akhirnya Griffith menjadi professor dalam psikologi pendidikan.

Dikemukakan pula oleh Silva III dan Weinberg (1984) beberapa penelitian sesudah perang dunia II yang dilakukan oleh beberapa ahli dari perguruan tinggi yaitu antara lain :

>>>Tahun 1952 John M. Harmon dari Universitas Boston, dan Johnson dari Universitas Maryland, menemukan reaksi-reaksi emosional dari atlit-atlit College.

>>>Tahun 1954 Johnson bersama Daniel H. Hutton (University of Maryland) dan Granvile B. Johnson (Emory University) meneliti sifat-sifat kepribadian dari kelompok selektif atlit-atlit yang tergolong superior.

>>>Tahun 1955 Burris F. Husman (Maryland) menyusun disertai mengenai agresivitas petinju dan pegulat.

>>>Tahun 1955 Johnson bersama Daniel H. Hutton meneliti dampak olahraga perkelahian terhadap dinamika perkembangan kepribadian.

>>>Pada sekitar tahun 1955 Franklin M. Henrry dan Celeste Ulrich mulai menganalisis pengaruh stres terhadap penampilan atlit.

SESUDAH KONGRES PSIKOLOGI OLAHRAGA 1965.

Menurut Bryant J. Cratty (1973) the first International Congres of Sport Psycology diselenggarakan di Roma. Dalam kongres tersebut telah disepakati pula untuk membentuk “International Society of Sports Psycology” disingkat (ISSP) yang didorong oleh kesadaran bahwa olahraga membutuhkan pendekatan psikologi. Robert Morford (Berkeley) sekitar tahun 1966 telah mengajar psikologi olahraga/motor learning, kemudian dilanjutkan oleh Richard B. Alderman dan Bob Wiberg. Tokoh-tokoh lain disamping Cratty, yang juga menulis tentang motor learning yaitu antara lain : Robert N. Singer (Florida State University) dan Josiph B. Oxendine (Temple University).

Di Amerika perkembangan psikologi olahraga juga di tunjang dengan berdirinya organisasi yang bergerak di bidang psikologi olahraga yaitu North American Society for the Psychology of Sport and Physical Activity (NASP-SPA), dengan tokoh-tokohnya antara lain : Arthur T. Slater-Hammel dari Indiana University (President), Bryant J. Cratty dari University of California at Los Angeles (vice-president for international affairs)

Sesudah diselenggarakan the Second International Conference of Sport Psychology di Washington, DC, beberapa sarjana dari Canada yang menyelenggarakan studi di Amerika mendirikan The Canadian Society for Psychomotor Learning and Sport Psychology (CSPLSP) dengan tokoh-tokohnya antara lain Bob Wilberg. Menurut Alderman (1984) sejak dari permulaan psikologi olahraga di Amerika Utara tumbuh atau berkembang atas dasar latar belakang pendidikan jasmani, termasuk orientasi dan falsafahnya.

Alderman (1984) juga mengemukakan bahwa karena perbedaan minat, objective (sasaran) dan teknik-teknik penelitian, maka sejak awal 1970 terjadi pemisahan lingkup studi atas “bidang motorik” yang lebih banyak melakukan penelitian terapan (applied research), dan profesional psikologi olahraga yang banyak berkecimpung dalam mentest teori dasar. Menurut Saparinah dan Sumarmo Markam (1982 : 21-22) bahwa psikologi olahraga berkembang sejak sekitar tahun 1960 dengan pesat. Pada tahun 1965 telah dibentuk International Society of Sport Psychology (ISSP) yang diketuai DR. Guido Schilling seorang psikolog klinis. Dikemukakan juga oleh Saparinah dan Sumarmo (1982) bahwa disamping Amerika, maka negara seperti Rusia, Jerman Timur, Australia, Cekoslovakia dan Norwegia telah secara konkrit memanfaatkan psikologi olahraga untuk atlit-atlit nasionalnya. Di Norwegia telah dibuka studi mengenai “Sport Psychology” pada taraf akademi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: