Silahkan (Khusus SMA N 1 Kepanjen) klik dibawah ini untuk download Kunci jawaban kelas XI semester 2…

6.download-button

Untuk kelas X klik dibawah ini….

6.download-button

Oleh: santriw4n | 23 Februari 2010

PENGERTIAN FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN

PENGERTIAN FILSAFAT

Dalam berbagai pemikiran terdapat banyak pengertian tentang filsafat. Secara etimologis filsafat berasal dari kata “philos” yang artinya love (cinta) dan “sophia” artinya wisdom (kebijaksanaan-kearifan). Jadi filsafat dapat diartikan cinta secara mendalam terhadap kebijaksanaan, cinta akan kearifan (Salam,2002:33). Menurut Henderson filsafat dapat berarti sebagai pendirian hidup, sebagai pandangan hidup. Misalnya falsafah Pancasila merupakan pandangan atau pendirian hidup bagi bangsa Indonesia.

J.A Leighton mendefinisikan filsafat sebagai “a world-view, or rasoned conception of the whole cosmos, and a lifeview, or doctrine of values, meanings, and purpose of human life”. Dari definisi ini pengertian filsafat adalah system atau sistematika filsafat yaitu metafisika, etika dan logika yang atinya secara berturut adalah teori tentang kosmologi dan ontology.

Theodore Brameld dalam bukunya menyatakan salah satu definisi filsafat adalah “the discipline conserred with the formulation of procise meaning” dimana menimbulkan kemungkinan salah satu istilah yang sama diartikan berbeda dan sebaliknya.

Webster mendefinisikan filsafat itu sebagai “love of wisdom” dan sebagai “ilmu pengetahuan yang menyelidiki fakta, dan prinsip-prinsip kenyataan hakekat dan kelakuan manusia”. (Yusuf,1989:34)

Definisi filsafat menurut beberapa ilmuwan antara lain:
A. Plato (427sm – 347sm) seorang filsuf yunani yang termasyhur murid socrates dan guru aristoteles, mengatakan: filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).

B. Aristoteles (384 sm – 322sm) mengatakan : filsafat adalah ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).

Baca Lanjutannya…

Oleh: santriw4n | 23 Februari 2010

PEMBELAJARAN ABK(anak berkebutuhan khusus)

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang mengalami kelainan sedemikian rupa baik fisik, mental, sosial maupun kombinasi dari ketiga aspek tersebut, sehingga untuk mencapai potensi yang optimal ia memerlukan Pendidikan luar biasa(PLB).

PLB merupakan pendidikan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan ABK. Adapun yang dirancang dalam PLB adalah kelas, program dan layanannya. Sehingga PLB dapat diartikan juga sebagai Spesial kelas, program atau layanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Anak luar biasa.

ABK bisa memiliki masalah dalam sensorisnya, motoriknya, belajarnya, dan tingkahlakunya. Semua ini mengakibatkan terganggunya perkembangan fisik anak. Hal ini karena sebagian besar ABK mengalami hambatan dalam merespon rangsangan yang diberikan lingkungan untuk melakukan gerak, meniru gerak dan bahkan ada yang memang fisiknya terganggu sehingga ia tidak dapat melakukan gerakan yang terarah dengan benar.

Di satu sisi, Anak luar Biasa harus dapat mandiri, beradaptasi, dan bersaing dengan orang normal, di sisi lain ia tidak secara otomatis dapat melakukan aktivitas gerak. Secara tidak disadari akan berdampak kepada pengembangan dan peningkatan kemampuan fisik dan keterampilan geraknya. Pendidikan jasmani bagi ABK disamping untuk kesehatan juga harus mengandung pembetulan kelainan fisik.

Dengan uraian di atas maka jelas bahwa Pendidikan jasmani yang diadaptasi dan dimodifikas sesuai dengan kebutuhan, jenis kelainan dan tingkat kemampuan ABK merupakan salah satu factor yang sangat menentukan dalam keberhasilan Pendidikan bagi ABK. Keberhasilan ini akan terwujud baik pada PLB dalam bentuk kelas khusus, program khusus, maupun dalam bentuk layanan khusus di SD biasa maupun di tiap jenjang sekolah biasa lainnya.

Apa dan bagaimana pendidikan jasmani bagi ABK atau Pendidikan Jasmani adaptif secara sederhana akan diuraikan dibawah ini:

1. Pengertian pendidikan jasmani adaptif

Secara mendasar pendidikan jasmani adaptif adalah sama dengan pendidikan jasmani biasa. Pendidikan jasmani merupakan salah satu aspek dari seluruh proses pendidikan secara keseluruhan.

Pendidikan jasmani adaptif merupakan suatu sistem penyampaian layanan yang bersifat menyeluruh (comprehensif) dan dirancang untuk mengetahui, menemukan dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor.

Hampir semua jenis ketunaan ABK memiliki problim dalam ranah psikomotor. Masalah psikomotor sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan sensomotorik, keterbatasan dalam kemampuan belajar. Sebagian ABK bermasalah dalam interaksi sosial dan tingkah laku. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa peranan pendidikan jasmani bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) sangat besar dan akan mampu mengembangkan dan mengkoreksi kelainan dan keterbatasan tersebut.

2. Ciri dari program pengajaran penjas Adaptif

Sifat program pengajaran pendidikan jasmani adaptif memiliki ciri khusus yang menyebabkan nama pendidikan jasmani ditambah dengan kata adaptif. Adapun ciri tersebut adalah:

  1. Program Pengajaran Penjas adaptif disesuiakan dengan jenis dan karakteristik kelainan siswa. Hal ini dimaksutkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang berkelainan berpartisipasi dengan aman, sukses, dan memperoleh kepuasan. Misalnya bagi siswa yang memakai korsi roda satu tim dengan yang normal dalam bermain basket, ia akan dapat berpartisipasi dengan sukses dalam kegiatan tersebut bila aturan yang dikenakan kepada siswa yang berkorsi roda dimodifikasi. Demikian dengan kegiatan yang lainnya. Oleh karena itu pendidikan Jasmani adaptif akan dapat membantu dan menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
  2. Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat membantu dan mengkoreksi kelainan yang disandang oleh siswa. Kelainan pada Anak luar Biasa bisa terjadi pada kelainan fungsi postur, sikap tubuh dan pada mekanika tubuh. Untuk itu, program pengajaran pendidikan Jasmani adaptif harus dapat membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi yang memperburuk keadaanya.
  3. Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan jasmani individu ABK. Untuk itu pendidikan Jasmani adaptif mengacu pada suatu program kesegaran jasmani yang progressif, selalu berkembang dan atau latihan otot-otot besar. Dengan demikian tingkat perkembangan ABK akan dapat mendekati tingkat kemampuan teman sebayanya.

Apabila program pendidikan jasmani adaptif dapat mewujudkan hal tersebut di atas. maka pendidikan jasmani adaptif dapat membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan siswa memiliki harga diri. Perasaan ini akan dapat membawa siswa berprilaku dan bersikap sebagai subjek bukan sebagai objek di lingkungannya.

3. Tujuan pendidikan jasmani adaptif.

Sebagaimana dijelaskan di atas betapa besar dan strategisnya peran pendidikan jasmani adaptif dalam mewujudkan tujuan pendidikan bagi ABK, maka Prof. Arma Abdoellah, M.Sc. dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Jasmani Adaptif” memerinci tujuan pendidikan Jasmani adaptif bagi ABK sebagai berikut:

  1. Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki.
  2. Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk keadaannya melalui Penjas tertentu.
  3. Untuk memberikan kesempatan pada siswa mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olah raga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi.
  4. Untuk menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
  5. Untuk membantu siswa melakukan penyesuaian social dan mengembangkan perasaan memiliki harga diri.
  6. Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan appresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.
  7. Untuk menolong siswa memahami dan menghargai macam olah raga yang dapat diminatinya sebagai penonton.

4. Modifikasi dalam pendidikan jasmani adaptif

Bila kita lihat masalah dari kelainannya, jenis Anak Berkebutuhan Khusus dikelompokkan menjadi:

a. ABK yang memiliki masalah dalam sensoris
b. ABK yang memiliki masalah dalam gerak dan motoriknya
c. ABK yang memiliki masalah dalam belajar
d. ABK yang memiliki masalah dalam tingkah lakunya

Dari masalah yang disandang dan karakteristik setiap jenis ABK maka menuntut adanya penyesuaian dan modifikasi dalam pengajaran Pendidikan Jasmani bagi ABK.

Penyesuaian dan modifikasi dari pengajaran penjas bagi ABK dapat terjadi pada:

a. Modifikasi aturan main dari aktifitas pendidikan jasmani.
b. Modifikasi keterampilan dan tehniknya .
c. Modifikasi tehnik mengajarnya.
d. Modifikasi lingkungannya termasuk ruang, fasilitas dan peralatannya

Seorang ABK yang satu dengan yang lain, kebutuhan aspek yang dimodifikasi tidak sama. ABK yang satu mungkin membutuhkan modifikasi tempat dan arena bermainnya. ABK yang lain mungkin membutuhkan modifikasi alat yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Tetapi mungkin yang lain lagi disamping membutuhkan modifikasi area bermainnya juga butuh modifikasi alat dan aturan mainnya. Demikian pula seterusnya, tergatung dari jenis masalah, tingkat kemampuan dan karakteristik dan kebutuhan pengajaran dari setiap jenis ABK.

Oleh: santriw4n | 23 Februari 2010

GAYA BELAJAR VISUAL, AUDIOTORIAL, KINESTETIK

GAYA BELAJAR VISUAL, AUDIOTORIAL, KINESTETIK

Selain gaya belajar yang dikemukakan oleh Anthony Gregore di atas ada juga gaya belajar yang lain.

Dalam buku Quantum Learning dipaparkan 3 modalitas belajar seseorang yaitu : “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing_ masing  dari kita belajar dengan menggunakan ketiga molalitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”.
1. Visual (belajar dengan cara melihat)

Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.
Ciri-ciri gaya belajar visual :

  • – Bicara agak cepat
  • – Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
  • – Tidak mudah terganggu oleh keributan
  • – Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
  • – Lebih suka membaca dari pada dibacakan
  • – Pembaca cepat dan tekun
  • – Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
  • – Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
  • – Lebih suka musik dari pada seni
  • – Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :

  • Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
  • Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
  • Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
  • Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
  • Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

2. Auditori (belajar dengan cara mendengar)

Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Ciri-ciri gaya belajar auditori :

  • – Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri
  • – Penampilan rapi
  • – Mudah terganggu oleh keributan
  • – Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
  • – Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  • – Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
  • – Biasanya ia pembicara yang fasih
  • – Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
  • – Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
  • – Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
  • – Berbicara dalam irama yang terpola
  • – Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :

  • Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
  • Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
  • Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
  • Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
  • Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.
  • Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.
Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

  • – Berbicara perlahan
  • – Penampilan rapi
  • – Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
  • – Belajar melalui memanipulasi dan praktek
  • – Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
  • – Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
  • – Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
  • – Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
  • – Menyukai permainan yang menyibukkan
  • – Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
  • – Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

  • Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
  • Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
  • Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
  • Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
  • Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.

Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.

Gaya belajar lain yang juga unik adalah yang disebut Tactual Learners atau kita harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar kita bisa mengingatnya. Tentu saja, ada beberapa karekteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar kita bisa terus mengingatnya. Kedua, hanya dengan memegang kita bisa menyerap informasinya tanpa harus membaca penjelasannya. Karakter ketiga adalah kita termasuk orang yang tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran. Keempat, kita merasa bisa belajar lebih baik bila disertai dengan kegiatan fisik. Karakter terakhir, orang-orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability).

Oleh: santriw4n | 26 November 2009

Judul Skripsi Penjas

Contoh-contoh judul skripsi Pendidikan Jasmani dan Olahraga yang sudah ada antara lain:

KUALITATIF

  • STUDI TENTANG PENCAK DOR DI DESA SELOKAJANG, KEC. SRENGAT KAB. BLITAR
  • STUDI KASUS TENTANG PEMBINAAN ATLET PELATNAS INDONESIA PERISAI DIRI DALAM KAITANNYA DENGAN IPSI (SUHARTA; 1995)
  • PERBANDINGAN PERKEMBANGAN GERAK LOKOMOTOR ANTARA SISWA SD DAERAH PESISIR DAN SISWA DAERAH PEGUNUNGAN

PENGEMBANGAN

  • PENGEMBANGAN BUKU TEKS PENDIDIKAN JASMANI UNTUK SISWA KELAS III SD (EKO F., 2005)
  • PENGEMBANGAN SENAM JUDO AEROBIK MENGGUNAKAN MEDIA VCD (AMEL, 2004)
  • PENGEMBANGAN BOLABASKET LAPANGAN RUMPUT  (DWI UTARI, 2003)
  • PENGEMBANGAN BOLATANGAN GAWANG KERANJANG (BAHRUL ULUM, 2004)
  • PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BOLAVOLI UNTUK SISWA SMP NEGERI SE KOTA MALANG (DENOK, 2004)

KORELASIONAL

  • HUBUNGAN ANTARA HB DAN VO2 MAX DENGAN KECEPATAN PULIH ASAL SETELAH AKTIVITAS AEROBIK
  • HUBUNGAN ANTARA KELENTUKAN TOGOK, KEKUATAN OTOT LENGAN DAN ASPEK KOGNITIF DENGAN KECEPATAN RENANG 200 METER GAYA KUPU-KUPU
  • HUBUNGAN ANTARA KAPASITAS VITAL PARU DENGAN KECEPATAN RECOVERY
  • HUBUNGAN ANTARA KAPASITAS AEROBIK MAKSIMAL (VO2 MAX) DAN PRESTASI AKADEMIK SISWA SDN I SEMEN KELAS IV-VI PUTRA
  • PERBEDAAN TINGKAT KESEGARAN JASMANI ANTARA MAHASISWA PUTRA ANTARA MAHASISWA PRODI IK DAN PJKR ANGKATAN 2001

EKSPERIMEN

  • PENGARUH LATIHAN BOLAVOLI GANDU TERHADAP KELINCAHAN DAN KECEPATAN PADA SISWA SD KEMANTREN I
  • PENGARUH LATIHAN AEROBIK DAN ANAEROBIK TERHADAP JUMLAH SIRKULASI LEUKOSIT PADA TIKUS PUTIH
  • PENGARUH LATIHAN TERATUR DAN TIDAK TERATUR TERHADAP TRIGLISERIDA PADA TIKUS PUTIH

SURVEY/DESKRIPTIF

  • STUDI TETANG SARANA UKS DI SLTP SEKECAMATAN TUMPANG
  • STUDI TETANG SARANA & PRASARANA PENJASKES DI SMU NEGERI SE KOTA MALANG
  • SURVEY TINGKAT KESEGARAN JASMANI DI TC BULUTANGKIS PELATCAB KOTA MALANG

 

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.